Manajer Harus Bisa Atasi Quiet Quitting, Ini Caranya!

Manajer Harus Bisa Atasi Quiet Quitting, Ini Caranya!

Share

Dalam dunia kerja yang terus berubah, ada tren yang semakin mendapatkan perhatian. Namanya quiet quitting. Tren ini sedang terjadi terutama di kalangan Generasi Z. Jadi, sudahkah kamu familier dengan fenomenanya?

Artikel ini akan membahas definisi quiet quitting, alasan di baliknya, dan cara-cara manajemen untuk mengatasinya. Yuk, simak!

Tren Quiet Quitting di Kalangan Gen Z

Generasi Z merupakan generasi yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Mereka ternyata memiliki karakteristik yang unik. Apa yang membedakan mereka dari generasi lainnya?

Pertama-tama, mereka cenderung lebih canggih dalam menggunakan teknologi. Selanjutnya, mereka juga memiliki ekspektasi yang berbeda terkait pekerjaan.

Itulah latar belakang tren quiet quitting yang seringnya terjadi di kalangan Gen Z.

Jadi, apa itu quiet quitting? Menurut Investopedia, pengertian quiet quitting adalah kondisi di mana seorang karyawan melakukan pekerjaan hanya supaya tidak dipecat. Dalam artian, karyawan ini tidak akan mengeluarkan energi lebih banyak untuk memenuhi peran mereka dalam pekerjaan.[1]

Tentu saja, ini jadi masalah baru bagi semua perusahaan-perusahaan besar di Indonesia dan dunia. Pasalnya, produktivitas perusahaan jadi terganggu ketika kurang berinvestasi secara mental dan emosional dalam pekerjaannya

Inilah salah satu ciri-ciri quiet quitting, di mana karyawan kurang berinvestasi secara mental dan emosional dalam pekerjaan, yang akhirnya berdampak pada produktivitas dan perusahaan.

Sebagai karyawan, Gen Z tidak secara terbuka mengungkapkan ketidakpuasan mereka terhadap pekerjaan mereka. Namun, mereka justru mulai mencari pekerjaan baru tanpa memberi tahu atasan mereka.

Alasan Quiet Quitting

Ternyata ada beberapa penyebab Quiet Quitting yang membuat fenomena ini populer di kalangan Gen Z. Apa saja itu?

1. Ketidakpuasan terhadap Kondisi Kerja

Yang pertama, banyak dari Generasi Z merasa tidak puas dengan kondisi kerja mereka, mulai dari beban kerja yang berat hingga kurangnya dukungan dari manajemen.

Namun, mereka mungkin enggan mengungkapkan ketidakpuasan ini secara terbuka karena khawatir dampaknya terhadap karier mereka.

2. Kemudahan Akses ke Informasi Lowongan Pekerjaan

Teknologi masa kini memungkinkan karyawan untuk dengan mudah mencari pekerjaan baru secara online tanpa meninggalkan jejak yang mencolok. Jadi, ini membuat mereka merasa lebih leluasa untuk mencari peluang lain tanpa ketahuan atasan.

3. Kekhawatiran akan Reaksi Negatif dari Atasan

Beberapa karyawan khawatir bahwa jika mereka mengungkapkan ketidakpuasan atau keinginan untuk pindah, mereka akan mendapatkan reaksi negatif dari atasan atau diberi tugas yang lebih sulit.

Cara Manajemen Mengatasi Quiet Quitting

Dalam menghadapi quiet quitting, manajemen perusahaan atau HR tentu saja perlu mengambil langkah-langkah konkret untuk mencegah karyawan mundur dari posisinya tanpa pemberitahuan.

Berikut beberapa cara yang biasanya dilakukan oleh pihak manajemen andal:

1. Mengelola Komunikasi dengan Karyawan

Pertama-tama dan mungkin yang terpenting, manajemen harus bisa membangun lingkungan di mana karyawan merasa nyaman untuk berbicara tentang masalah atau kekhawatiran mereka.

Dengan kata lain, perusahaan harus punya manajer yang aktif mendengarkan dan membuka saluran komunikasi yang efektif. Manajer dapat melakukannya melalui pertemuan rutin, jajak pendapat anonim, atau bahkan membangun sarana komunikasi online.

2. Mengidentifikasi Isu

Selanjutnya, seorang manajer yang baik juga harus proaktif dalam mengidentifikasi masalah yang mungkin muncul di antara karyawan. Ini dapat ia lakukan dengan cara: 

  • Memonitor tingkat kepuasan karyawan
  • Melakukan wawancara individu
  • Melalui feedback secara berkala.

3. Mencari Manajer yang Punya Kemampuan Manajemen yang Baik

Seorang manajer yang baik adalah kunci dalam mengatasi quiet quitting. Manajer harus memiliki kemampuan manajemen yang baik, termasuk kemampuan untuk mendengarkan, memberikan umpan balik konstruktif, dan menciptakan lingkungan kerja yang positif.

Jadi, perusahaan yang ingin mengatasi quiet quitting harus memilih manajer yang sudah mendapat pelatihan manajemen spesifik dan mau terus mengembangkan keterampilan ini.

Magister Administrasi Bisnis Tel-U Kembangkan Kurikulum Berbasis Study Case

Untuk mengatasi perubahan tren di dunia kerja, Magister Administrasi Bisnis di Telkom University (Tel-U) telah mengembangkan kurikulum berbasis studi kasus.

Program ini bisa membekali mahasiswa berbagai pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan bisnis saat ini. Dengan kata lain, kuliah di sini juga akan membekalimu dengan ilmu manajemen penting untuk menghadapi tantangan quiet quitting.

Ini beberapa mata kuliah yang akan kamu dapatkan di MBA Telkom University:

1. Business Governance

Mata kuliah ini membahas konsep dan praktik tata kelola bisnis yang baik. Di sini, kamu akan belajar memahami bagaimana mengelola bisnis secara etis dan efektif.

2. Strategic Leadership

Mata kuliah ini fokus pada pengembangan kepemimpinan strategis yang kamu perlukan untuk menghadapi tantangan bisnis yang kompleks. Mahasiswa akan belajar mengidentifikasi peluang dan mengelola risiko dengan bijak.

Lebih daripada itu, kamu juga bisa belajar dari studi kasus nyata terkait dengan manajemen risiko di perusahaan-perusahaan ternama Indonesia.

3. Start-up Business Strategy

Dalam mata kuliah ini, mahasiswa akan belajar tentang strategi bisnis untuk perusahaan-perusahaan baru atau start-up. Dari sini kamu akan belajar soal bisnis start-up, termasuk caranya berkomunikasi dengan investor dan mengelola desain produk.

4. Global Business Strategy

Mata kuliah ini akan membahas strategi bisnis di tingkat global dengan studi kasus nyata. Jadi, kamu akan belajar memahami tantangan dan peluang yang ada saat beroperasi di pasar global. Tujuannya adalah agar kamu bisa berkompetisi juga di job market internasional.

Dengan kurikulum berbasis studi kasus ini, Tel-U berkomitmen untuk mempersiapkan mahasiswa dengan pengetahuan dan keterampilan yang relevan demi menghadapi perubahan dinamis dalam dunia bisnis.

Jadi, ketika nanti kamu menempati posisi manajer, kamu sudah tahu caranya membangun komunikasi yang baik untuk mengatasi quiet quitting.

Dengan langkah-langkah yang tepat, quiet quitting bisa dicegah dan perusahaan dapat tetap produktif dan berkembang. Ingin benar-benar belajar lebih mendalam soal quiet quitting? #RaihMasaDepanmu sekarang di program S2 Administrasi Bisnis Telkom University! Klik di sini!

Share

Berikan Rating & Feedback agar kami dapat meningkatkan layanan informasi kami.

Form Review Halaman Program Studi
WhatsApp
Zoom